Memperbincangkan hubungan Islam dengan
demokrasi pada dasarnya sangat aksiomatis. Sebab, Islam merupakan agama
dan risalah yang mengandung asas-asas yang mengatur ibadah, akhlak dan
muamalat manusia. Sedangkan, demokrasi hanyalah sebuah sistem
pemerintahan dan mekanisme kerja antaranggota masyarakat serta simbol
yang diyakini membawa banyak nilai-nilai positif. Polemik hubungan
demokrasi dengan Islam ini berakar pada sebuah “ketegangan teologis”
antara rasa keharusan memahami doktrin yang telah mapan oleh
sejarah-sejarah dinasti muslim dengan tunttan untuk memberikan pemahaman
baru pada doktrin tersebut sebagai respons atas fenomena sosial yang
telah berubah.
Air di jahannam adalah hamim (air panas yang menggelegak), anginnya adalah samum (angin yang amat panas), sedang naungannya adalah yahmum (naungan berupa potongan-potongan asap hitam yang sangat panas. Jibril datang kepada Rasulullah pada waktu yang tak biasa. Namun, Jibril nampak berbeza. Raut wajah yang tak biasa.
Maka Rasulullah SAW bertanya:
” Mengapa aku melihat kau berubah muka (wajah)?” Jawabnya: ” Ya Muhammad, aku datang kepadamu di saat Allah menyuruh supaya dikobarkan penyalaan api neraka, maka tidak layak bagi orang yang mengetahui bahwa neraka Jahannam itu benar, siksa kubur itu benar, dan siksa Allah itu terbesar untuk bersuka-suka sebelum ia merasa aman daripadanya” .